Suka Cita Dalam Tuhan
Suka Cita Dalam Tuhan

Tuhan bukan hanya mendengar jeritan, tetapi juga menyelamatkan semua orang yang dikasihiNya



MAZMUR 69:30-37

Setiap orang,  apapun professinya, entah dia tua atau muda, kaya atau miskin,  berpendidikan tinggi atau rendah, semua orang mengharapkan sukacita dan bahagia dalam segala waktu kehidupannya. Namun dalam realita, tak semua orang selalu bersukacita. Bahkan kebanyakan orang merasakan penderitaan dan kesengsaraan dalam segala waktu kehidupannya. Secara teologis, sukacita dan bahagia tidak selalu dinampakkan dengan tertawa dan kemewahan. Dan sebaliknya, orang yang menderita karena kerja keras, tidak selalu identik dengan sengsara. Ada kalanya orang yang menangis itu bahagia, dan orang yang sangat menderita karena kerja keras justeru merasa sangat bahagia. Yesus sangat menderita di kayu salib, tetapi dia tidak merasa sedih dalam penderitaan tersebut, sebaliknya Yesus merasa bahagia dan sukacita, karena segala tugasNya telah tertunaikan dengan sangat baik. Dalam khotbah di bukit Yesus mengatakan: “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya kerajaan Sorga” (Mat 5:10). Bagaimana orang yang dianiaya bisa berbahagia..?  Sekarang ini, semua orang di seluruh Dunia merasa menderita dan tertekan karena merebaknya virus COVID 19. Penderita Corona merasa sangat menderita karena diisolasi, tidak boleh dikunjungi oleh siapapun. Tetapi juga orang sehat merasa menderita, karena harus tinggal di rumah saja.

Berdasarkan perikop Mazmur 69:30-37, Sukacita di dalam Tuhan tidak sama dengan sukacita Dunia ini. Sukacita di dalam Tuhan, adalah suatu penderitaan karena kebenaran yang mengakibatkan sukacita yang kekal. Menurut perikop ini, ada beberapa alasan mengapa orang yang menderita itu disebut Sukacita sbb: Pertama: Karena Tuhan berpihak kepada orang yang menderita ( ayat 30). Selama dalam penderitaan Daud, Tuhan menyertainya, itulah bukti keberpihakan Tuhan kepada orang yang menderita, apalagi penderitaan itu bukan karena kejahatan, dan kesalahan Daud. Demikian juga ketika umat Israel berada di perbudakan Mesir, Tuhan mendengan jeritan mereka, dan menutus Musa untuk melepaskan mereka dari perbudakan. Kedua: Karena Tuhan lebih mendengar orang yang menderita (ayat 34). Tuhan mengistimewakan untuk mendengar jeritan minta tolong dari orang yang menderita. Misalnya ketika Yusuf dibuang oleh saudaranya ke Jurang, dan kemudian menjualnya ke pedagang Fotifar. Tuhan mendengar doa Yusuf, sehingga ia diselamatkan Tuhan. Ketiga: Allah menyelamatkan umatNya yang menderita (ayat 35). Tuhan bukan hanya mendengar jeritan, tetapi juga menyelamatkan semua orang yang dikasihiNya. Seperti umat Israel, mereka bisa makan dan minum selama 40 tahun di Gurun Pasir. Keempat:  Keturunan orang beriman menjadi pewaris kerajaan Sorga (ayat37). Iman seseorang berdampak positip terhadap keturunannya. Dan Tuhan menempatkan mereka di posisi yang paling beruntung dan maju, sehingga mereka menjadi penguasa bumi. Sukacita orang beriman bukan hanya dalam kehidupan Sorgawi, tetapi juga selama berada di Dunia, sampai kepada keturunannya. (MPS)

Pdt. Marolop Sinaga

Penulis: Pdt. Marolop Sinaga

Pdt. Marolop Sinaga, MTh, STh


Berita Terkait

Form Komentar



Masukan 6 kode diatas :

huruf tidak ke baca? klik disini refresh


Komentar Via Facebook



Profil HKBPJatisampurna

HKBP Jatisampurna telah memasuki usia yang matang sejak awal berdiri. Seiring perkembangan jemaat yang begitu cepat, saat ini sudah mencapai 1200 KK yang dilayani 4 orang pendeta . Pada tahun 2008 HKBP Jatisampurna diresmikan sebagai Ressort [read more...]

Facebook

Twitter

Kami Siap Membantu Anda